02154331263 info@syariahmedia.id

Riba merupakan salah satu kegiatan yang sangat dilarang oleh Islam. Riba sendiri dalam Bahasa Arab memiliki arti bertambah, sehingga segala sesuatu yang bertambah dikenal dengan riba. Sedangkan menurut istilah riba memiliki arti sebagai penambahan beban kepada pihak yang berutang, sehingga terdapat tambahan sejumlah uang selain jumlah pokok.

Dalam Ajaran Islam, riba adalah salah satu hal yang paling dilarang, bahkan termasuk ke dalam dosa besar melebihi zina. Hal inilah yang menyebabkan umat Islam harus menjauhi riba, karena sangat dekat dan bisa disengaja maupun tidak disengaja dapat dilakukan.

Sejarah Riba

Menurut sejarah riba telah dikenal sejak zaman dahulu, tepatnya sejak manusia mengenal emas, perak, dan juga uang. Namun kisah yang paling terkenal adalah pada zaman Nabi Musa As, dimana banyak sekali kaum Yahudi yang melakukannya. Dan hal ini ditiru oleh umat Nabi Musa As, sehingga Allah SWT melarang hal tersebut.

Kaum Yahudi pada zaman tersebut menyebarkan di Arab tepatnya di Kota Thaif dan Kota Yashrib, sekarang dikenal dengan Kota Madinah. Bahkan riba sendiri terus menyebar dengan pesat, dan akhirnya sampai di Kota Mekkah.

Di zaman Rasulullah Saw sendiri telah dihapuskan seperti pada Sabda “ Riba Jahiliyah telah dihapuskan. Riba pertama yang kuhapuskan adalah riba Abbas bin Abi Muthalib. Sesungguhnya semua riba telah dihapuskan”. (HR. Muslim)

Dari sabda Rasulullah Saw tersebut menyebutkan bahwa riba telah dilarang dan dihapuskan. Terutama bagi umat muslim yang menganut Ajaran Islam.

Riba telah dilarang dengan jelas oleh Ajaran Islam dan telah dimasukkan ke dalam perbuatan yang keji. Bahkan dalam ayat suci Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menyebut tentang riba. Salah satunya adalah Surah Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَوَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُون

Artinya : “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.

Jenis-jenis Riba

Riba utang piutang

Riba adalah kegiatan menambah atau menggandakan kekayaan dengan cara yang tidak benar, digolongkan menjadi beberapa golongan. Salah satunya adalah utang piutang, yang dimana terdapat unsur riba apabila terdapat penambahan selain pokok yang diberikan. Secara garis besar riba utang piutang dibedakan menjadi dua yaitu Qardh dan Jahiliyah.

Qardh merupakan jenis yang terjadi pada proses utang piutang, dimana terdapat tambahan nilai atau manfaat terhadap kreditor (peminjam). Hal ini adalah yang sangat sering kita temui, yaitu terdapat tambahan nilai yang dibebankan kepada kreditor. Biasa kita kenal juga sebagai bunga dari pinjaman pokok.

Jahiliyah merupakan jenis yang terjadi akibat keterlambatan kreditor dalam mengembalikan pinjaman pokok. Seorang peminjam harus memberi tambahan selain pinjaman pokok, atau biasa kita kenal dengan denda. Hal ini adalah jenis yang biasa kita temui pada kredit sebuah barang.

Riba bukan hanya terjadi pada utang piutang saja, namun dapat terjadi pada transaksi jual beli. Dimana terdapat kondisi atau keadaan transaksi dikatakan riba. Dalam garis besar jenis ini dibedakan menjadi Fadhl dan Nasi’ah.

Riba Jual Beli

Fadhl adalah jenis yang terjadi pada transaksi jual beli antara jenis barang yang sama, namun memiliki kadar atau jumlah yang berbeda. Dalam keadaan jual beli pada umumnya riba jenis ini juga sering terjadi, dimana terdapat perbedaan atau pengurangan jumlah barang yang dijual oleh seorang pedagang.

Nasi’ah adalah jenis jual beli yang terjadi karena adanya penangguhan transaksi, dan dalam penangguhan tersebut terdapat perbedaan atau perubahan jumlah barang maupun jumlah uang yang diberikan. Hal ini tentu saja tidak diperbolehkan dikarenakan akan terjadi kerugian yang dialami oleh suatu pihak.

Sumber : https://pondokislam.com/riba/

Spread the love